Apem, Kolak Dan Ketupat: Islam Indonesia Itu Unik
Islam Indonesia itu unik!. Kira-kira demikian kesimpulan Clifford Greetz dalam bukunya, “Religion Of Java”. Selama meneliti hubungan Islam dan Jawa, Clifford rupanya tak hanya membagi tipologi muslim menjadi santri, abangan dan priyayi, melainkan juga menemukan keunikan akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Dan justru di sinilah kekuatan Islam di Indonesia sesungguhnya.
Clifford benar, sebab Islam di Indonesia mempunyai corak dan ciri khas yang berbeda dengan Islam di daerah asalnya, kini Arab Saudi. Sebagai contoh akulturasi budaya Jawa dan Islam, kita dapat temui pada fenomena bulan Ramadhan, dimana apem, kolak dan ketupat menjadi suatu tradisi tersendiri bagi masyarakat Jawa dahulu.
Apem, misalnya, menurut Bambang Pranowo, berasal dari kata “afwun”, yang berati ampunan. Kita tahu, bulan Ramadhan adalah bulan penuh pengampunan (afwun), dan orang Jawa menyimbolkannya dengan saling mengirim kue “afwun”, yang kemudian mengalami penyesuaian dengan lidah orang Jawa sehingga menjadi kata “apem”.
Demikian pula dengan “Kolak” yang seakan menjadi menu wajib berbuka puasa bagi orang Jawa. Ia berasal dari kata “Khola”, yang berarti “yang telah berlalu”. Kolak menjadi simbolisasi bahwa bulan Ramadhan adalah bulan dimana seharusnya kesalahan antar manusia berlalu.
Kemudian, seusai Ramadhan, pada suasana idul fitri biasanya akan diramaikan pula dengan “Ketupat”. Ketupat dalam bahasa Jawa disebut “Kupat”, yang berasal dari kata “Laku Sing Papat” (perilaku yang empat). Hal ini karena dalam menyambut Idul Fitri, umat Islam diajarkan untuk melaksanakan 4 hal, yaitu, mengumandangkan takbir, mengeluarkan zakat fitrah, melakukan shalat Idul Fitri, dan bersilaturahmi.
Hal-hal di atas adalah sebagian dari gambaran simbolisasi tradisi orang Jawa dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, yang memberi arti betapa kentalnya akulturasi antara budaya Jawa dengan agama Islam. Sehingga tak heran jika ada yang menyimpulkan, Islam Indonesia itu unik!.
Sumber : kompas
Clifford benar, sebab Islam di Indonesia mempunyai corak dan ciri khas yang berbeda dengan Islam di daerah asalnya, kini Arab Saudi. Sebagai contoh akulturasi budaya Jawa dan Islam, kita dapat temui pada fenomena bulan Ramadhan, dimana apem, kolak dan ketupat menjadi suatu tradisi tersendiri bagi masyarakat Jawa dahulu.
![]() |
| Ilustration |
Apem, misalnya, menurut Bambang Pranowo, berasal dari kata “afwun”, yang berati ampunan. Kita tahu, bulan Ramadhan adalah bulan penuh pengampunan (afwun), dan orang Jawa menyimbolkannya dengan saling mengirim kue “afwun”, yang kemudian mengalami penyesuaian dengan lidah orang Jawa sehingga menjadi kata “apem”.
Demikian pula dengan “Kolak” yang seakan menjadi menu wajib berbuka puasa bagi orang Jawa. Ia berasal dari kata “Khola”, yang berarti “yang telah berlalu”. Kolak menjadi simbolisasi bahwa bulan Ramadhan adalah bulan dimana seharusnya kesalahan antar manusia berlalu.
Kemudian, seusai Ramadhan, pada suasana idul fitri biasanya akan diramaikan pula dengan “Ketupat”. Ketupat dalam bahasa Jawa disebut “Kupat”, yang berasal dari kata “Laku Sing Papat” (perilaku yang empat). Hal ini karena dalam menyambut Idul Fitri, umat Islam diajarkan untuk melaksanakan 4 hal, yaitu, mengumandangkan takbir, mengeluarkan zakat fitrah, melakukan shalat Idul Fitri, dan bersilaturahmi.
Hal-hal di atas adalah sebagian dari gambaran simbolisasi tradisi orang Jawa dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, yang memberi arti betapa kentalnya akulturasi antara budaya Jawa dengan agama Islam. Sehingga tak heran jika ada yang menyimpulkan, Islam Indonesia itu unik!.
Sumber : kompas
Apem, Kolak Dan Ketupat: Islam Indonesia Itu Unik
Reviewed by Kanasfi
on
07.43
Rating:
Reviewed by Kanasfi
on
07.43
Rating:



Tidak ada komentar